Langsung ke konten utama

Materi Ketiga

 Perilaku Mahabbah, Khauf, Raja', dan Tawakkal Dalam Menata Kehidupan


  1. Mahabbah memiliki arti mencintai Allah SWT. Dalam pandangan sufi mencintai Allah SWT. atau Mahabbah berarti patuh kepada Allah SWT. sekaligus membenci sikap yang melawan kepadannya. Orang yang mencintai Allah SWT. adalah tujuan akhir dan derajat tertinggi, setelah mencintai Allah SWT. tidak ada tingkatan lagi yang harus di cintai.
  2. Macam-Macam Cinta. 
                    Ibnu Taimiyah menyebutkan beberapa macam bentuk cinta dan konsekwensinnya, antara lain:
  • Mahabbah Al Ibadah ( Cinta Sebagai Ibadah ). Cinta sebagai bentuk penghambaan diri, pengagungan kepada Allah SWT.
  • Mahabbatullah ( Mencintai Allah SWT. ). Mencintai Allah SWT>berarti selalu menempatkan Allah SWT. di segala perbuatan atau tindakan.
  • Al-Mahabbah At-Tabiiyyah ( Cinta alamiyah / natural ).
Hikmah mencintai Allah SWT.
  • Mahabbatullah merupakan dasar dan jiwa (Ruh ) tauhid.
  • Cinta kepada Allah SWT. merupakan pendorong kuat meninggalkan maksiat.
  • Cinta kepada Allah SWT. dapat menghilangkan keraguan.
  • Cinta kepada Allah SWT. sebagai kesempurnaan kenikmatan dan puncak kebahagiaan.
 KHAUF ( Takut )

            Khauf yang dimaksud adalah takut kepada Allah SWT. Takut kepada Allah SWT. adalah perasaan takut yang ada dalam diri seseorangakan adanya siksa dan merasa bersalah akibat maksiat yang sudah di perbuat, sehingga menimbulkan kekhawatiran dalam diri jiwa Allah SWT. tidak senang kepadannya.

            Macam-macam khauf. Ibnu Taimiyah membagi rasa takut ( Khauf ) ke dalam beberapa bagian, antara lain sebagai berikut. 
  • Takut yang tersembunyi.
  • Takut dari ancaman Allah SWT.
  • takut yang di larang
  • Takut yang alami/wajar/natural.
  • Takut yang tidak beralasan/berlebihan ( Paranoid )

            Tanda-tanda takut kepada Allah SWT. antara lain sebagai berikut. 
  1. Lisannya tidak pernah berbohong dan tidak pernah membicarakan kejelekan orang lain.
  2. mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan baik.
  3. Dapat menjaga pandangannya dari sesuatu yang haram.
  4. tangannya di gunakan untuk sesuatu yang baik
  5. Kakinya di gunakan untuk melangkah pada sesuatu yang baik dan bukan untuk maksiat.
  6. Hatinya terhindar dari kebencian dan permusuhan.
  7. Taat kepada Allah SWT. dengan penuh keikhlasan.
        
        Raja'.

            Hakikat berharap kepada Allah Swt. (Raja’)

            Menurut istilah, raja’ berarti berharap untuk memperoleh rahmat dan karunia Allah Swt. Sifat raja’ ini harus disertai optimis, perasaan gembira, sikap percaya dan yakin akan kebaikan Allah Swt. Lebih dari itu sifat raja’ harus dibarengi dengan amal-amal saleh untuk meraih kebahagiaan di akhirat. Seseorang yang berharap kepada Allah Swt. tanpa diikuti dengan amal, maka ia hanya berangan-angan belaka.

        Kebalikan dari sifat raja’ adalah putus asa dari rahmat Allah Swt. Seseorang yang putus asa atas rahmat Allah Swt. dikategorikan sebagai orang sesat, sebagaimana firman Allah Swt. dalam Q.S. al-Hijr/15: 55-56 berikut ini :



Artinya: “(Mereka) menjawab, “Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah engkau termasuk orang yang berputus asa.” (55) Dia (Ibrahim) berkata, “Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat.”

        Ketika seseorang memiliki sifat raja’ maka ia akan bersemangat untuk menggapai rahmat Allah Swt. karena Dia memiliki sifat Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Penyayang. Meskipun bergelimangan dosa, rasa optimis mendapat ampunan Allah Swt. tetap ada dalam hatinya. Namun perlu diingat bahwa sifat raja’ ini harus bersanding dengan sifat khauf. Menurut Abu ‘Ali al-Rawdzabari, antara khauf dan raja’ ibarat dua sayap burung. Jika kedua sayap tersebut sama, maka burung tersebut akan mampu terbang secara sempurna. Namun jika kurang, maka terbangnya juga kurang sempurna. Dan jika salah satu sayap itu hilang, maka burung itu tak akan bisa terbang. Apabila kedua sayapnya hilang, maka tak butuh waktu lama burung itu akan mati.

        Jika sifat khauf dan raja’ ini melekat pada diri seseorang maka ia tak akan mudah menghakimi orang lain, sebab semua keputusan ada di tangan Allah Swt. Misalnya, ketika melihat orang yang ahli maksiat, tidak boleh divonis pasti masuk neraka, bisa jadi dalam hatinya ada harapan Allah Swt. akan mengampuninya, hingga Allah Swt. memasukkannya ke surga. Sebaliknya, seseorang rajin ibadah bisa jadi masuk neraka, karena ada sifat sombong dalam hatinya. 

1.              Cara Menumbuhkan Sifat Raja’

Sifat raja’ akan tumbuh pada diri seseorang dengan melakukan hal-hal berikut ini:

a.   Muhasabah atas nikmat-nikmat Allah Swt.

   Muhasabah atas nikmat-nikmat Allah Swt. berarti mawas diri atas apa yang telah diperbuat sebagai                 ungkapan syukur kepada Allah Swt. Tak ada manusia yang sanggup menghitung nikmat Allah Swt.                 Sifat raja’ akan muncul pada diri seseorang yang hatinya dipenuhi rasa syukur kepada Allah Swt . 

b.   Mempelajari dan memahami Al-Qur`an .

        Al-Qur`an merupakan kalamullah yang syarat dengan ilmu. Di dalamnya terkandung hikmah dan pelajaran bagi siapa saja yang ingin mengambilnya. Setiap ayat dan surat Al-Qur`an berisi pesan-pesan moral dari Allah Swt. kepada seluruh umat manusia. Dengan mempelajari dan memahaminya secara mendalam maka akan tumbuh sifat raja’.

c.   Meyakini kesempurnaan karunia Allah Swt.

        Sifat raja’ akan tumbuh pada diri seseorang apabila ia meyakini bahwa Allah Swt. telah memberikan karunia sempurna kepadanya. Allah Swt. telah memberikan rejeki yang cukup bagi semua makhluk ciptaan-Nya. Tak ada satupun makhluk di dunia ini yang sia-sia, pasti bermanfaat bagi kehidupan manusia. 

                    Hakikat Tawakal Kepada Allah Swt.

        Rasulullah Saw. menganjurkan umatnya untuk selalu menerapkan sikap tawakal dalam kehidupan sehari-hari. Sikap ini pula yang diajarkan kepada para sahabat Nabi Saw. Para sahabat Nabi terbiasa bersikap tawakal dalam menghadapi permasalahan hidup. Ini menjadi bukti keberhasilan Nabi dalam memberikan contoh perilaku hidup yang dihiasi dengan tawakal. Rasulullah Saw. selalu pasrah kepada Allah, tidak ada rasa khawatir dan gelisah dalam menghadapi berbagai macam permasalahan. Allah Swt. berfirman dalam Q.S. ar-Ra’d/13: 30



Artinya: “Demikianlah, Kami telah mengutus engkau (Muhammad) kepada suatu umat yang sungguh sebelumnya telah berlalu beberapa umat, agar engkau bacakan kepada mereka (Al-Qur’an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka ingkar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Katakanlah, “Dia Tuhanku, tidak ada tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertobat.”

        Secara bahasa, tawakal berarti memasrahkan, menanggungkan sesuatu, mewakilkan atau menyerahkan. Secara istilah, tawakal artinya menyerahkan segala permasalahan kepada Allah Swt. setelah melakukan usaha sekuat tenaga. Seseorang yang bertawakal adalah seseorang yang mewakilkan atau menyerahkan hasil usahanya kepada Allah Swt. Sifat Ini merupakan bentuk kepasrahan kepada-Nya sebagai dzat yang Maha kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada rasa sedih dan kecewa atas keputusan yang diberikan-Nya. Tawakal bukan berarti menyerahkan nasib kepada Allah Swt. secara mutlak. Akan tetapi harus didahului dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Dikisahkan, ada sahabat Nabi Saw. datang menemui beliau tanpa terlebih dahulu mengikat untanya. Saat ditanya, sahabat tersebut menjawab: ’Aku tawakal kepada Allah Swt.”. Kemudian Nabi Saw. meluruskan kesalahan dalam memahami makna tawakal tersebut dengan bersabda”: ’Ikatlah terlebih dahulu untamu, kemudian setelah itu bertawakallah kepada Allah Swt.”

1.              Manfaat Tawakal

Banyak manfaat yang akan diperoleh dari penerapan sikap tawakal dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya:

a.   Tercukupinya semua keperluan

Seseorang yang bertawakal kepada Allah Swt. akan mendapatkan jaminan tercukupinya semua kebutuhan hidupnya. Hal ini sesuai dengan Q.S. at-Talaq/65:3 berikut ini

 

Artinya: “Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu”. (Q.S. at-Talaq/65: 3)

 

b.   Mudah untuk bangkit dari keterpurukan

Setiap orang pasti pernah merasakan suatu kegagalan. Usaha maksimal sudah dilakukan, namun tidak ada hasilnya. Seseorang yang tawakal dan husnuzan atas ketentuan Allah Swt. akan mudah bangkit dari kegagalan dan keterpurukan tersebut. Sesulit apapun masalah yang dihadapi, ia akan sabar dan optimis mampu menyelesaikannya dengan baik.

c.  Tidak bisa dikuasai oleh setan

Seseorang yang bertawakal tidak bisa dikuasai oleh setan. Sebab, setan tidak punya kemampuan menggoda orang-orang yang dekat dengan Allah Swt. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Q.S. an-Nahl/16: 99

 

Artinya: “Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan.” (Q.S. an-Nahl/16: 99)

 

d.   Memperoleh nikmat yang tiada henti

Allah Swt. akan memberikan nikmat yang terus-menerus mengalir tiada henti kepada hamba-Nya yang ikhtiar tanpa mengeluh, dan selalu berharap mendapatkan yang terbaik. Allah Swt. berfirman dalam Q.S. asy-Syura/42: 36

 

Artinya: “Apa pun (kenikmatan) yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kesenangan hidup di dunia. Sedangkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal”. (Q.S. asy-Syura/42: 36)

e.  Menghargai hasil usaha

Seseorang yang bertawakal akan menerima apa pun hasil akhir dari usahanya. Hatinya tetap gembira dan penuh rasa syukur atas semua karunia dari Allah Swt. Ia akan terus-menerus berusaha maksimal untuk meraih impiannya. Usaha yang telah dilakukan tersebut dijadikan bahan renungan untuk terus diperbaiki di masa datang. Jika hasil usaha sendiri saja dihargai, maka sikap ini akan berimbas kepada sikap menghargai hasil usaha orang lain.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Materi Kedua

  Kajian Q.S. Al Isra'/17 : 32 dan Q.S. An Nur / 24:2, serta hadits tentang larangan pergaulan bebas dan perbuatan zina.         Pergaulan Bebas adalah tindakan atau sikap yang di lakukan oleh individu atau kelompok dengan tidak terkontrol dan tidak di batasi oleh aturan-aturan hukum yang berlaku dalam masyarakat. Pergaulan bebas dalam pemahaman keseharian identik dengan prilaku yang dapat merusak tatanan nilai dalam masyarakat. Adapun bentuk-bentuk pergaulan bebas yang penting untuk di waspadai adalah seks bebas, merokok dan minum-minuman keras di kalangan remaja, tawuran, dan konsumsi obat-obatan terlarang.           Pergaulan bebas dalam Islam tentunya adalah hal yang di larang. Hal ini karena pergaulan bebas memiliki dampak yang sangat besar terhadap diri dan suatu masyarakat. Tentu saja Allah SWT. tidak akan melarang sesuatu yang tidak memiliki dampak terhadap manusia.            Dampak y...

Materi Pertama

 Hukum Bacaan Q.S. Al Isra' : 32 dan Q.S. An Nur : 2 Tentang Larangan Pergaulan Bebas dan Perbuatan zina