Perilaku Mahabbah, Khauf, Raja', dan Tawakkal Dalam Menata Kehidupan
- Mahabbah memiliki arti mencintai Allah SWT. Dalam pandangan sufi mencintai Allah SWT. atau Mahabbah berarti patuh kepada Allah SWT. sekaligus membenci sikap yang melawan kepadannya. Orang yang mencintai Allah SWT. adalah tujuan akhir dan derajat tertinggi, setelah mencintai Allah SWT. tidak ada tingkatan lagi yang harus di cintai.
- Macam-Macam Cinta.
- Mahabbah Al Ibadah ( Cinta Sebagai Ibadah ). Cinta sebagai bentuk penghambaan diri, pengagungan kepada Allah SWT.
- Mahabbatullah ( Mencintai Allah SWT. ). Mencintai Allah SWT>berarti selalu menempatkan Allah SWT. di segala perbuatan atau tindakan.
- Al-Mahabbah At-Tabiiyyah ( Cinta alamiyah / natural ).
- Mahabbatullah merupakan dasar dan jiwa (Ruh ) tauhid.
- Cinta kepada Allah SWT. merupakan pendorong kuat meninggalkan maksiat.
- Cinta kepada Allah SWT. dapat menghilangkan keraguan.
- Cinta kepada Allah SWT. sebagai kesempurnaan kenikmatan dan puncak kebahagiaan.
- Takut yang tersembunyi.
- Takut dari ancaman Allah SWT.
- takut yang di larang
- Takut yang alami/wajar/natural.
- Takut yang tidak beralasan/berlebihan ( Paranoid )
- Lisannya tidak pernah berbohong dan tidak pernah membicarakan kejelekan orang lain.
- mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal dan baik.
- Dapat menjaga pandangannya dari sesuatu yang haram.
- tangannya di gunakan untuk sesuatu yang baik
- Kakinya di gunakan untuk melangkah pada sesuatu yang baik dan bukan untuk maksiat.
- Hatinya terhindar dari kebencian dan permusuhan.
- Taat kepada Allah SWT. dengan penuh keikhlasan.
Menurut istilah,
raja’ berarti berharap untuk memperoleh rahmat dan karunia Allah Swt. Sifat
raja’ ini harus disertai optimis, perasaan gembira, sikap percaya dan yakin
akan kebaikan Allah Swt. Lebih dari itu sifat raja’ harus dibarengi dengan
amal-amal saleh untuk meraih kebahagiaan di akhirat. Seseorang yang berharap
kepada Allah Swt. tanpa diikuti dengan amal, maka ia hanya berangan-angan
belaka.
Kebalikan dari sifat raja’ adalah putus asa dari rahmat Allah Swt. Seseorang yang putus asa atas rahmat Allah Swt. dikategorikan sebagai orang sesat, sebagaimana firman Allah Swt. dalam Q.S. al-Hijr/15: 55-56 berikut ini :
Artinya: “(Mereka) menjawab, “Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah engkau termasuk orang yang berputus asa.” (55) Dia (Ibrahim) berkata, “Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat.”
Ketika seseorang memiliki sifat raja’ maka ia akan bersemangat untuk menggapai rahmat Allah Swt. karena Dia memiliki sifat Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Penyayang. Meskipun bergelimangan dosa, rasa optimis mendapat ampunan Allah Swt. tetap ada dalam hatinya. Namun perlu diingat bahwa sifat raja’ ini harus bersanding dengan sifat khauf. Menurut Abu ‘Ali al-Rawdzabari, antara khauf dan raja’ ibarat dua sayap burung. Jika kedua sayap tersebut sama, maka burung tersebut akan mampu terbang secara sempurna. Namun jika kurang, maka terbangnya juga kurang sempurna. Dan jika salah satu sayap itu hilang, maka burung itu tak akan bisa terbang. Apabila kedua sayapnya hilang, maka tak butuh waktu lama burung itu akan mati.
Jika sifat khauf dan raja’ ini melekat pada diri seseorang maka ia tak akan mudah menghakimi orang lain, sebab semua keputusan ada di tangan Allah Swt. Misalnya, ketika melihat orang yang ahli maksiat, tidak boleh divonis pasti masuk neraka, bisa jadi dalam hatinya ada harapan Allah Swt. akan mengampuninya, hingga Allah Swt. memasukkannya ke surga. Sebaliknya, seseorang rajin ibadah bisa jadi masuk neraka, karena ada sifat sombong dalam hatinya.
1. Cara Menumbuhkan Sifat Raja’
Sifat raja’ akan tumbuh pada diri seseorang dengan melakukan hal-hal berikut ini:
a. Muhasabah atas nikmat-nikmat Allah Swt.
Muhasabah atas nikmat-nikmat Allah Swt. berarti mawas diri atas apa yang telah diperbuat sebagai ungkapan syukur kepada Allah Swt. Tak ada manusia yang sanggup menghitung nikmat Allah Swt. Sifat raja’ akan muncul pada diri seseorang yang hatinya dipenuhi rasa syukur kepada Allah Swt .
b. Mempelajari dan memahami Al-Qur`an .
Al-Qur`an merupakan
kalamullah yang syarat dengan ilmu. Di dalamnya terkandung hikmah dan pelajaran
bagi siapa saja yang ingin mengambilnya. Setiap ayat dan surat Al-Qur`an berisi
pesan-pesan moral dari Allah Swt. kepada seluruh umat manusia. Dengan
mempelajari dan memahaminya secara mendalam maka akan tumbuh sifat raja’.
c. Meyakini kesempurnaan karunia Allah Swt.
Sifat raja’ akan
tumbuh pada diri seseorang apabila ia meyakini bahwa Allah Swt. telah
memberikan karunia sempurna kepadanya. Allah Swt. telah memberikan rejeki yang
cukup bagi semua makhluk ciptaan-Nya. Tak ada satupun makhluk di dunia ini yang
sia-sia, pasti bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Hakikat Tawakal Kepada Allah Swt.
Rasulullah Saw. menganjurkan umatnya untuk selalu menerapkan sikap
tawakal dalam kehidupan sehari-hari. Sikap ini pula yang diajarkan kepada para
sahabat Nabi Saw. Para sahabat Nabi terbiasa bersikap tawakal dalam menghadapi
permasalahan hidup. Ini menjadi bukti keberhasilan Nabi dalam memberikan contoh
perilaku hidup yang dihiasi dengan tawakal. Rasulullah Saw. selalu pasrah
kepada Allah, tidak ada rasa khawatir dan gelisah dalam menghadapi berbagai
macam permasalahan. Allah Swt. berfirman dalam Q.S. ar-Ra’d/13: 30
Artinya: “Demikianlah, Kami telah mengutus engkau (Muhammad) kepada suatu umat yang sungguh sebelumnya telah berlalu beberapa umat, agar engkau bacakan kepada mereka (Al-Qur’an) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka ingkar kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Katakanlah, “Dia Tuhanku, tidak ada tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakal dan hanya kepada-Nya aku bertobat.”
Secara bahasa, tawakal berarti memasrahkan, menanggungkan sesuatu,
mewakilkan atau menyerahkan. Secara istilah, tawakal artinya menyerahkan segala
permasalahan kepada Allah Swt. setelah melakukan usaha sekuat tenaga. Seseorang
yang bertawakal adalah seseorang yang mewakilkan atau menyerahkan hasil
usahanya kepada Allah Swt. Sifat Ini merupakan bentuk kepasrahan kepada-Nya
sebagai dzat yang Maha kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada rasa sedih dan
kecewa atas keputusan yang diberikan-Nya. Tawakal bukan berarti menyerahkan
nasib kepada Allah Swt. secara mutlak. Akan tetapi harus didahului dengan
ikhtiar yang sungguh-sungguh. Dikisahkan, ada sahabat Nabi Saw. datang menemui
beliau tanpa terlebih dahulu mengikat untanya. Saat ditanya, sahabat tersebut
menjawab: ’Aku tawakal kepada Allah Swt.”. Kemudian Nabi Saw. meluruskan
kesalahan dalam memahami makna tawakal tersebut dengan bersabda”: ’Ikatlah
terlebih dahulu untamu, kemudian setelah itu bertawakallah kepada Allah Swt.”
1. Manfaat Tawakal
Banyak manfaat yang akan diperoleh dari penerapan sikap tawakal dalam
kehidupan sehari-hari, di antaranya:
a. Tercukupinya
semua keperluan
Seseorang yang bertawakal kepada Allah Swt. akan mendapatkan jaminan
tercukupinya semua kebutuhan hidupnya. Hal ini sesuai dengan Q.S. at-Talaq/65:3
berikut ini
Artinya: “Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan
mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya.
Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu”. (Q.S.
at-Talaq/65: 3)
b. Mudah
untuk bangkit dari keterpurukan
Setiap orang pasti pernah merasakan suatu kegagalan. Usaha maksimal sudah
dilakukan, namun tidak ada hasilnya. Seseorang yang tawakal dan husnuzan atas
ketentuan Allah Swt. akan mudah bangkit dari kegagalan dan keterpurukan
tersebut. Sesulit apapun masalah yang dihadapi, ia akan sabar dan optimis mampu
menyelesaikannya dengan baik.
c. Tidak bisa dikuasai oleh setan
Seseorang yang bertawakal tidak bisa dikuasai oleh setan. Sebab, setan
tidak punya kemampuan menggoda orang-orang yang dekat dengan Allah Swt. Hal ini
sesuai dengan firman Allah Swt. dalam Q.S. an-Nahl/16: 99
Artinya: “Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang
beriman dan bertawakal kepada Tuhan.” (Q.S. an-Nahl/16: 99)
d. Memperoleh
nikmat yang tiada henti
Allah Swt. akan memberikan nikmat yang terus-menerus mengalir tiada henti
kepada hamba-Nya yang ikhtiar tanpa mengeluh, dan selalu berharap mendapatkan
yang terbaik. Allah Swt. berfirman dalam Q.S. asy-Syura/42: 36
Artinya: “Apa pun (kenikmatan) yang diberikan kepadamu, maka itu adalah
kesenangan hidup di dunia. Sedangkan apa (kenikmatan) yang ada di sisi Allah
lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada
Tuhan mereka bertawakal”. (Q.S. asy-Syura/42: 36)
e. Menghargai hasil usaha
Seseorang yang bertawakal akan menerima apa pun hasil akhir dari
usahanya. Hatinya tetap gembira dan penuh rasa syukur atas semua karunia dari
Allah Swt. Ia akan terus-menerus berusaha maksimal untuk meraih impiannya.
Usaha yang telah dilakukan tersebut dijadikan bahan renungan untuk terus
diperbaiki di masa datang. Jika hasil usaha sendiri saja dihargai, maka sikap
ini akan berimbas kepada sikap menghargai hasil usaha orang lain.
Komentar
Posting Komentar